{"id":5410,"date":"2017-01-25T23:49:44","date_gmt":"2017-01-25T23:49:44","guid":{"rendered":"http:\/\/www.grahabuku.com\/?p=5410"},"modified":"2017-01-25T23:49:44","modified_gmt":"2017-01-25T23:49:44","slug":"pengertian-aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/2017\/01\/25\/pengertian-aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah\/","title":{"rendered":"Pengertian Aqidah Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullah<br \/>\n<strong><br \/>\nA. Definisi \u2018Aqidah<\/strong><br \/>\n\u2018Aqidah <span style=\"font-size: medium;\">(\u0627\u064e\u0644\u0652\u0639\u064e\u0642\u0650\u064a\u0652\u062f\u064e\u0629\u064f)<\/span> menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-\u2018aqdu<span style=\"font-size: medium;\"> (\u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0642\u0652\u062f\u064f) <\/span>yang berarti ikatan, at-tautsiiqu<span style=\"font-size: medium;\">(\u0627\u0644\u062a\u0651\u064e\u0648\u0652\u062b\u0650\u064a\u0652\u0642\u064f)<\/span> yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu <span style=\"font-size: medium;\">(\u0627\u0652\u0644\u0625\u0650\u062d\u0652\u0643\u064e\u0627\u0645\u064f)<\/span> yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah <span style=\"font-size: medium;\">(\u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u0628\u0652\u0637\u064f \u0628\u0650\u0642\u064f\u0648\u0651\u064e\u0629\u064d) <\/span>yang berarti mengikat dengan kuat.[1]<\/p>\n<p>Sedangkan menurut istilah (terminologi): \u2018aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.<\/p>\n<p>Jadi, \u2018Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid[2] dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma\u2019 (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath\u2019i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma\u2019 Salafush Shalih.[3]<\/p>\n<p><strong>B. Objek Kajian Ilmu \u2018Aqidah[4]<\/strong><br \/>\n\u2018Aqidah jika dilihat dari sudut pandang sebagai ilmu -sesuai konsep Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah- meliputi topik-topik: Tauhid, Iman, Islam, masalah ghaibiyyaat (hal-hal ghaib), kenabian, takdir, berita-berita (tentang hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang), dasar-dasar hukum yang qath\u2019i (pasti), seluruh dasar-dasar agama dan keyakinan, termasuk pula sanggahan terhadap ahlul ahwa\u2019 wal bida\u2019 (pengikut hawa nafsu dan ahli bid\u2019ah), semua aliran dan sekte yang menyempal lagi menyesatkan serta sikap terhadap mereka.<\/p>\n<p>Disiplin ilmu \u2018aqidah ini mempunyai nama lain yang sepadan dengannya, dan nama-nama tersebut berbeda antara Ahlus Sunnah dengan firqah-firqah (golongan-golongan) lainnya.<\/p>\n<p><strong>\u2022 Penamaan \u2018Aqidah Menurut Ahlus Sunnah:<\/strong><br \/>\nDi antara nama-nama \u2018aqidah menurut ulama Ahlus Sunnah adalah:<\/p>\n<p><strong>1. Al-Iman<\/strong><br \/>\n\u2018Aqidah disebut juga dengan al-Iman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, karena \u2018aqidah membahas rukun iman yang enam dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sebagaimana penyebutan al-Iman dalam sebuah hadits yang masyhur disebut dengan hadits Jibril Alaihissallam. Dan para ulama Ahlus Sunnah sering menyebut istilah \u2018aqidah dengan al-Iman dalam kitab-kitab mereka.[5]<\/p>\n<p><strong>2. \u2018Aqidah (I\u2019tiqaad dan \u2018Aqaa-id)<\/strong><br \/>\nPara ulama Ahlus Sunnah sering menyebut ilmu \u2018aqidah dengan istilah \u2018Aqidah Salaf: \u2018Aqidah Ahlul Atsar dan al-I\u2019tiqaad di dalam kitab-kitab mereka.[6]<\/p>\n<p><strong>3. Tauhid<\/strong><br \/>\n\u2018Aqidah dinamakan dengan Tauhid karena pembahasannya berkisar seputar Tauhid atau pengesaan kepada Allah di dalam Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma\u2019 wa Shifat. Jadi, Tauhid merupakan kajian ilmu \u2018aqidah yang paling mulia dan merupakan tujuan utamanya. Oleh karena itulah ilmu ini disebut dengan ilmu Tauhid secara umum menurut ulama Salaf.[7]<br \/>\n<strong><br \/>\n4. As-Sunnah<\/strong><br \/>\nAs-Sunnah artinya jalan. \u2018Aqidah Salaf disebut As-Sunnah karena para penganutnya mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum di dalam masalah \u2018aqidah. Dan istilah ini merupakan istilah masyhur (populer) pada tiga generasi pertama.[8]<\/p>\n<p><strong>5. Ushuluddin dan Ushuluddiyanah<\/strong><br \/>\nUshul artinya rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam dan masalah-masalah yang qath\u2019i serta hal-hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama.[9]<\/p>\n<p><strong>6. Al-Fiqhul Akbar<\/strong><br \/>\nIni adalah nama lain Ushuluddin dan kebalikan dari al-Fiqhul Ashghar, yaitu kumpulan hukum-hukum ijtihadi.[10]<br \/>\n<strong><br \/>\n7. Asy-Syari\u2019ah<\/strong><br \/>\nMaksudnya adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya berupa jalan-jalan petunjuk, terutama dan yang paling pokok adalah Ushuluddin (masalah-masalah \u2018aqidah).[11]<\/p>\n<p>Itulah beberapa nama lain dari ilmu \u2018Aqidah yang paling terkenal, dan adakalanya kelompok selain Ahlus Sunnah menamakan \u2018aqidah mereka dengan nama-nama yang dipakai oleh Ahlus Sunnah, seperti sebagian aliran Asyaa\u2019irah (Asy\u2019ariyyah), terutama para ahli hadits dari kalangan mereka.<\/p>\n<p><strong>\u2022 Penamaan \u2018Aqidah Menurut Firqah (Sekte) Lain:<\/strong><br \/>\nAda beberapa istilah lain yang dipakai oleh firqah (sekte) selain Ahlus Sunnah sebagai nama dari ilmu \u2018aqidah, dan yang paling terkenal di antaranya adalah:<\/p>\n<p>1. Ilmu Kalam<br \/>\nPenamaan ini dikenal di seluruh kalangan aliran teologis mu-takallimin (pengagung ilmu kalam), seperti aliran Mu\u2019tazilah, Asyaa\u2019irah[12] dan kelompok yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena ilmu Kalam itu sendiri merupa-kan suatu hal yang baru lagi diada-adakan dan mempunyai prinsip taqawwul (mengatakan sesuatu) atas Nama Allah dengan tidak dilandasi ilmu.<\/p>\n<p>Dan larangan tidak bolehnya nama tersebut dipakai karena bertentangan dengan metodologi ulama Salaf dalam menetapkan masalah-masalah \u2018aqidah.<\/p>\n<p>2. Filsafat<br \/>\nIstilah ini dipakai oleh para filosof dan orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam \u2018aqidah, karena dasar filsafat itu adalah khayalan, rasionalitas, fiktif dan pandangan-pandangan khurafat tentang hal-hal yang ghaib.<\/p>\n<p>3. Tashawwuf<br \/>\nIstilah ini dipakai oleh sebagian kaum Shufi, filosof, orientalis serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Ini adalah nama yang tidak boleh dipakai dalam \u2018aqidah, karena merupakan pe-namaan yang baru lagi diada-adakan. Di dalamnya terkandung igauan kaum Shufi, klaim-klaim dan pengakuan-pengakuan khurafat mereka yang dijadikan sebagai rujukan dalam \u2018aqidah.<\/p>\n<p>Penamaan Tashawwuf dan Shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam.<\/p>\n<p>Dr. Shabir Tha\u2019imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu\u2019taqadan wa Maslakan: \u201cJelas bahwa Tashawwuf dipengaruhi oleh kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam.\u201d[13]<\/p>\n<p>Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) rahimahullah berkata di dalam bukunya at-Tashawwuful-Mansya\u2019 wal Mashaadir: \u201cApabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran Shufi yang pertama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab Shufi baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara Shufi dengan ajaran Al-Qur-an dan As-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit-bibit Shufi di dalam perjalanan hidup Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau Radhiyallahu anhum, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala dari para hamba-Nya (setelah para Nabi dan Rasul). Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran Tashawwuf diambil dari para pendeta Kristen, Brahmana, Hindu, Yahudi, serta ke-zuhudan Budha, konsep asy-Syu\u2019ubi di Iran yang merupakan Majusi di periode awal kaum Shufi, Ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran Neo-Platonisme, yang dilakukan oleh orang-orang Shufi belakangan.\u201d[14]<\/p>\n<p>Syaikh \u2018Abdurrahman al-Wakil rahimahullah berkata di dalam kitabnya, Mashra\u2019ut Tashawwuf: \u201cSesungguhnya Tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaithan telah membuat hamba Allah tertipu dengannya dan memerangi Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Sesungguhnya Tashawwuf adalah (sebagai) kedok Majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran Shufi terdapat ajaran Brahmanisme, Budhisme, Zoroasterisme, Platoisme, Yahudi, Nasrani dan Paganisme.\u201d[15]<\/p>\n<p>4. Ilaahiyyat (Teologi)<br \/>\nIllahiyat adalah kajian \u2018aqidah dengan metodologi filsafat. Ini adalah nama yang dipakai oleh mutakallimin, para filosof, para orientalis dan para pengikutnya. Ini juga merupakan penamaan yang salah sehingga nama ini tidak boleh dipakai, karena yang mereka maksud adalah filsafatnya kaum filosof dan penjelasan-penjelasan kaum mutakallimin tentang Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala menurut persepsi mereka.<\/p>\n<p>5. Kekuatan di Balik Alam Metafisik<br \/>\nSebutan ini dipakai oleh para filosof dan para penulis Barat serta orang-orang yang sejalan dengan mereka. Nama ini tidak boleh dipakai, karena hanya berdasar pada pemikiran manusia semata dan bertentangan dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah.<\/p>\n<p>Banyak orang yang menamakan apa yang mereka yakini dan prinsip-prinsip atau pemikiran yang mereka anut sebagai keyakinan sekalipun hal itu palsu (bathil) atau tidak mempunyai dasar (dalil) \u2018aqli maupun naqli. Sesungguhnya \u2018aqidah yang mempunyai pengertian yang benar yaitu \u2018aqidah Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah yang bersumber dari Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam yang shahih serta Ijma\u2019 Salafush Shalih.<\/p>\n<p>[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i, Po Box 7803\/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H\/Juni 2006M]<br \/>\n_______<br \/>\nFootnote<br \/>\n[1]. Lisaanul \u2018Arab (IX\/311: \u0639\u0642\u062f) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) t dan Mu\u2019jamul Wasiith (II\/614: \u0639\u0642\u062f).<br \/>\n[2]. Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma\u2019 wa Shifat Allah.<br \/>\n[3]. Lihat Buhuuts fii \u2018Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa\u2019ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin \u2018Abdul Karim al-\u2018Aql, cet. II\/ Daarul \u2018Ashimah\/ th. 1419 H, \u2018Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa\u2019ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa\u2019ah fil \u2018Aqiidah oleh Dr. Nashir bin \u2018Abdul Karim al-\u2018Aql.<br \/>\n[4]. Lihat Buhuuts fii \u2018Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa\u2019ah (hal. 12-14).<br \/>\n[5]. Seperti Kitaabul Iimaan karya Imam Abu \u2018Ubaid al-Qasim bin Sallam (wafat th. 224 H), Kitaabul Iimaan karya al-Hafizh Abu Bakar \u2018Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah (wafat th. 235 H), al-Imaan karya Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitabul Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H), \u0631\u062d\u0645\u0647\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647 .<br \/>\n[6]. Seperti \u2018Aqiidatus Salaf Ash-haabil Hadiits karya ash-Shabuni (wafat th. 449 H), Syarah Ushuul I\u2019tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa\u2019ah (hal. 5-6) oleh Imam al-Lalika-i (wafat th. 418 H) dan al-I\u2019tiqaad oleh Imam al-Baihaqi (wafat th. 458 H), \u0631\u062d\u0645\u0647\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647.<br \/>\n[7]. Seperti Kitaabut Tauhiid dalam Shahiihul Bukhari karya Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H), Kitaabut Tauhiid wa Itsbaat Shifaatir Rabb karya Ibnu Khuzaimah (wafat th. 311 H), Kitaab I\u2019tiqaadit Tauhiid oleh Abu \u2018Abdillah Muhammad bin Khafif (wafat th. 371 H), Kitaabut Tauhiid oleh Ibnu Mandah (wafat th. 359 H) dan Kitaabut Tauhiid oleh Muhammad bin \u2018Abdil Wahhab (wafat th. 1206 H), \u0631\u062d\u0645\u0647\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647.<br \/>\n[8]. Seperti kitab as-Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H), as-Sunnah karya \u2018Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (wafat th. 290 H), as-Sunnah karya al-Khallal (wafat th. 311 H) dan Syarhus Sunnah karya Imam al-Barba-hari (wafat th. 329 H), \u0631\u062d\u0645\u0647\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647.<br \/>\n[9]. Seperti kitab Ushuuluddin karya al-Baghdadi (wafat th. 429 H), asy-Syarh wal Ibaanah \u2018an Ushuuliddiyaanah karya Ibnu Baththah al-Ukbari (wafat th. 387 H) dan al-Ibaanah \u2018an Ushuuliddiyaanah karya Imam Abul Hasan al-Asy\u2019ari (wafat th. 324 H), \u0631\u062d\u0645\u0647\u0645 \u0627\u0644\u0644\u0647.<br \/>\n[10]. Seperti kitab al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah rahimahullah (wafat th. 150).<br \/>\n[11]. Seperti kitab asy-Syarii\u2019ah oleh al-Ajurri (wafat th. 360 H) dan al-Ibaanah \u2018an Syarii\u2019atil Firqah an-Naajiyah karya Ibnu Baththah.<br \/>\n[12]. Seperti Syarhul Maqaashid fii \u2018Ilmil Kalaam karya at-Taftazani (wafat th. 791 H).<br \/>\n[13]. Ash-Shuufiyyah Mu\u2019taqadan wa Maslakan (hal. 17), dikutip dari Haqiiqatuth Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin \u2018Abdillah al-Fauzan (hal. 18-19).<br \/>\n[14]. At-Tashawwuf al-Mansya\u2019 wal Mashaadir (hal. 50), cet. I\/ Idaarah Turjumanis Sunnah, Lahore-Pakistan, th. 1406 H.<br \/>\n[15]. Mashra\u2019ut Tashawwuf (hal. 10), cet. I\/ Riyaasah Idaaratil Buhuuts al-\u2018Ilmiyyah wal Iftaa\u2019, th. 1414 H.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumber: www.almanhaj.or.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullah A. Definisi \u2018Aqidah \u2018Aqidah (\u0627\u064e\u0644\u0652\u0639\u064e\u0642\u0650\u064a\u0652\u062f\u064e\u0629\u064f) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-\u2018aqdu (\u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0642\u0652\u062f\u064f) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(\u0627\u0644\u062a\u0651\u064e\u0648\u0652\u062b\u0650\u064a\u0652\u0642\u064f) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (\u0627\u0652\u0644\u0625\u0650\u062d\u0652\u0643\u064e\u0627\u0645\u064f) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (\u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u0628\u0652\u0637\u064f \u0628\u0650\u0642\u064f\u0648\u0651\u064e\u0629\u064d) yang berarti mengikat dengan kuat.[1] Sedangkan menurut istilah (terminologi): \u2018aqidah adalah<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5411,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1133],"tags":[1134],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5410"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5410"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5410\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5410"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5410"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.grahabuku.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5410"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}